CERMIN (Cerita dan Meminta Informasi) dalam Menjalin Hubungan yang Baik Antara Guru, Siswa, dan Orang Tua di Awal Pembelajaran Daring Tahun Ajaran 2021/2022 pada Masa Pandemi Covid-19 pada Siswa Tuna Rungu Kelas XII SLB Negeri 2 Denpasar

29 September 2021

Luh Made Suriwati, S.Si, M.Si, M.Pd

 

Tulisan ini merupakan implementasi dari pelatihan program Guru Sahabat Keluarga yang diselenggarakan oleh PPPPTK TK PLB Kemendikbud dan didukung Pemerintah Australia melalui Skema Dana Hibah Alumni (Alumni Grant Scheme/AGS) yang diadministrasikan oleh Australia Awards di Indonesia.

SLB Negeri 2 Denpasar adalah salah satu  sekolah luar biasa di kota Denpasar yang saat ini menangani anak-anak berkebutuhan khusus tunarungu, tunagrahita dan autis. Diawal penyelenggaraannya, sekolah hanya memberikan pelayanan kepada siswa tuna rungu, dan lima tahun terakhir seiring perubahan nomenklatur, SLB wajib menerima semua ketuaan sehingga SLB Negeri 2 Denpasar pada saat ini melayani pembelajaran siswa tuna rungu dari jenjang kelas I SDLB  sampai dengan  kelas XII SMALB dan juga tuna grahita dan autis dari jenjang I sampai dengan V SDLB.

Awal tahun pelajaran berbagai hal dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan skenario pembelajaran yang akan dilakukan selama setahun ke depan. Tahun ajaran  2021/2022 merupakan Resiliensi yang wajib disadari oleh guru dan siswa mengingat kondisi di awal tahun pelajaran masih dalam masa pandemi Covid-19 apalagi pemberlakuan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) dalam skala darurat di pulau Jawa dan pulau Bali yang terus diperpanjang  membuat tantangan pembelajaran semakin besar. Seorang guru harus mampu beradaptasi dalam memenejerial pembelajaran yang akan dilakukan dengan baik.

Pada tahun ajaran ini saya diberikan kepercayaan sebagai wali kelas XII Tunarungu. Tantangan terbesar yang saya hadapi di awal tahun ajaran adalah bagaimana memberikan kesan yang baik dan melakukan komunikasi yang efektif sehingga apa yang ingin saya sampaikan dapat diterima dengan baik oleh para siswa sehingga diharapkan ke depan pembelajaran menjadi efektif.

Seberapa besar kesan pertama itu penting dalam hubungan antara guru, siswa dan orangtua? Setiap hari seseorang mungkin akan bertemu dengan orang baru, dan sesering itu orang akan memberikan penilaian yang melekat tentang bagaimana orang baru yang dia kenal,.Kesan pertama adalah kesan yang tidak mudah dilupakan oleh seseorang. Menurut James Uleman, PhD “Kesan yang Anda buat dapat mempengaruhi peluang kerja di masa depan, kolaborasi, atau hal penting lainnya”. Tanpa mengesampingkan pernyataan tersebut maka penting bagi saya sebagai seorang guru untuk membuat kesan yang bagus di awal pertemuan, karena akan memberikan dampak Halo Effect yang bagus yang akan diingat oleh siswa sepanjang pembelajaran yang akan dilakukan.

 

Gambar 1. Kesan pertama yang bagus dalam Pembelajaran

Hal nyata yang bisa saya lakukan sebagai seorang guru dalam memberikan kesan pertama yang bagus untuk siswa  dalam situasi pandemi covid-19 (dimana tatap muka tidak bisa dilakukan selayaknya pada era normal, komunikasi hanya bisa dilakukan  secara virtual dengan menggunakan  media komunikasi seperti WhatsApp, zoom atau Google Meet) adalah dengan menggunakan metode cermin yaitu bercerita dan meminta informasi-informasi mendetail mengenai bagaimana siswa dan kondisi lingkungannya sehingga saya memperoleh informasi yang holistik mengenai bagaimana kondisi dari siswa yang bersangkutan

Hal pertama yang saya lakukan adalah meminta informasi dari wali kelas sebelumnya tentang bagaimana kondisi dari masing-masing siswa pada pembelajaran kelas sebelumnya. Selanjutnya saya berkomunikasi lebih lanjut menggunakan WhatsApp grup dengan siswa. Melalui grup WA informasi mulai digali secara menyeluruh baik itu informasi akademik, informasi non akademik ataupun informasi dan situasi lingkungan terdekat seperti keluarga dan lingkungan terdekatnya. Melalui grup WA ini saya juga menggali informasi tentang kondisi orang tua dan nomor telepon orang tua sehingga saya bisa membuatkan grup baru bagi orang tua siswa.

Berkomunikasi dengan siswa tunarungu yang terpenting diberikan di awal adalah kesan bahwa komunikasi yang kita sampaikan bisa dimengerti dan efektif jadi bahasa yang saya gunakan adalah bahasa-bahasa yang singkat dan jelas kemudian juga menggunakan isyarat yang bisa dimengerti dan dipahami oleh siswa tunarungu. Yang bisa dipelajari di awal pembelajaran adalah bagaimana memberikan ruang yang nyaman bagi siswa tunarungu untuk berkomunikasi. Yang terpenting adalah guru bisa memfasilitasi siswa tunarungu dengan menggunakan bahasa isyarat yang singkat jelas dan mudah dimengerti dan menghindari memberi respons negatif kepada siswa apabila menggunakan bahasa tulis di media virtual hendaknya  berusaha untuk menuliskannya sesingkat mungkin dengan makna yang jelas dan bisa dimengerti. Pada saat memberi isyarat secara virtual isyarat yang digunakan tidak boleh berlebihan; isyarat diharapkan singkat dan menggunakan mimik oral yang jelas sehingga siswa bisa mengerti apa yang kita maksud. Pakaian pun kita harus memberikan efek warna yang yang menarik  karena siswa belajar secara visual, sehingga siswa menjadi betah, dan siswa mau memberikan informasi kepada guru tanpa tekanan. Dan perlu diingat  bahwa waktu dalam melakukan komunikasi hendaknya sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama.

Penggunaan  media virtual seperti zoom dan Google Meet guru hendaknya berusaha menggunakan latar belakang yang jelas dan menarik sehingga siswa bisa melihat guru menarik dan bisa memberikan motivasi kepada mereka untuk belajar dan selalu melakukan kontak mata. Pengalaman yang diperoleh ketika melakukan video conference, penampilan  rapi di depan kamera dan kontak mata yang baik  sangat berpengaruh sehingga siswa antusias dan tertarik untuk mengikuti sesi virtual yang dilakukan, dan informasi  dapat digali dengan baik dari siswa. Ketika melakukan komunikasi dengan siswa tunarungu guru harus berusaha untuk menyimak apa yang diisyaratkan oleh siswa, dan guru harus berusaha untuk memahaminya memberikan respon sesingkat mungkin dan sepadat mungkin sehingga mudah dipahami.  Pembicaraan dengan siwa dimulai dari menggali dan bercerita tentang bagaimana situasi individu apa yang dihadapi selama masa pandemi, apa yang ingin dipelajari oleh siswa kedepan, apa harapannya mengikuti kelas. Hal-hal sederhana itulah yang perlu digali mendalam dari setiap siswa. sehingga guru bisa memberikan kesan bahwa guru adalah teman, bukan sosok yang mereka takuti. Apalagi siswa kelas XII adalah remaja yang secara psikologis akan lebih nyaman jika lawan bicara memposisikan diri sebagai teman.

Komunikasi baik tidak hanya dilakukan dengan siswa tetapi dengan orangtua dan lingkungan sekitar siswa juga penting. Komunikasi guru dengan orang tua dalam mengkoordinasikan apa yang akan kita lakukan dalam pembelajaran setahun kedepan adalah menggali informasi dan berusaha menjadi pendengar yang baik tentang apa harapan yang ingin dicapai oleh orang tua ketika putra-putrinya bersekolah di SLB Negeri 2 Denpasar. Berusaha tampil dengan baik di depan kamera saat sosialisasi secara virtual sehingga orang tua merasa nyaman dan mau memberikan informasi yang baik dan menyeluruh sehingga harapan dari orang tua itu bisa kita catat dan dipersiapkan strategi-strategi pembelajaran kedepan tentang bagaimana cara mencapai tujuan dari pembelajaran.

Penerapan metode bercerita dan meminta informasi sangat bermanfaat dalam menjalin hubungan yang baik dengan siswa dan orangtua. karena guru memiliki rambu-rambu yang sesuai untuk mengarahkan siswa sesuai minat dan kemampuannya.Komunikasi yang baik memberikan informasi kemampuan awal dan cita-cita dari siswa kelas XII, apakah siswa akan melanjutkan ke jenjang Universitas atau akan bekerja. Jika siswa akan melanjutkan kuliah maka ini merupakan pekerjaan rumah yang besar untuk guru, orang tua dan sekolah untuk menyiapkan kemampuan secara akademik ataupun non akademik mengingat siswa tunarungu adalah siswa yang menghadapi keterbatasan dalam komunikasi jadi disini guru, orang tua dan sekolah menyiapkan bagaimana siswa agar mampu nanti bersaing di Universitas yang dituju atau dunia kerja.

Pematangan kesiapan mengenai jurusan yang akan dipilih saat kuliah dan dunia kerja yang akan dituju merupakan prioritas utama. Bercermin pada pengalaman yang sudah dilakukan pada tahun sebelumnya, bahwa untuk menyiapkan siswa di masa pandemi dimana komunikasi langsung sangat terbatas (sebab sebagian besar komunikasi akan dilakukan secara virtual) memiliki tantangan yang lebih besar terutama dalam menyiapkan mental siswa. Tahun ini ada beberapa siswa yang ingin melanjutkan kuliah terutama di bidang seni rupa murni, dan disini guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mematangkan siswa secara psikologis dan akademis

Komunikasi itu sangat penting bukan hanya dengan orang tua dan dengan siswa tetapi dengan guru bidang studi yang akan membantu siswa untuk meningkatkan bakatnya sehingga nantinya mampu bersaing di universitas atau dunia kerja. SLB adalah sekolah yang lebih menekankan kepada vokasi maka guru-guru yang mengajarkan vokasi penting juga diajak berkomunikasi sehingga informasi yang kita peroleh itu bisa kita bagikan dengan teman sejawat yang merupakan guru vokasi yang nantinya akan memberikan kematangan skill bagi siswa tuna rungu kelas XII dalam satu tahun kedepan.

Metode cermin juga menarik perhatian teman sejawat untuk menerapkannya pada kelas tunagrahita dan autis, tetapi dimodifikasi dengan cara komunikasi yang sedikit berbeda mengingat kemampuan akademis siswa tunagrahita dan autis berbeda dengan kondisi siswa tunarungu yang kami layani. Pada siswa tunagrahita, para guru lebih memberikan tugas-tugas berupa print out yang kemudian diberikan kepada orang tua dan meminta orang tua untuk menjelaskan kepada putra-putrinya.

Halo Effect tidak bisa kita pungkiri dan harus kita terapkan dalam pembelajaran karena dari hasil yang saya terapkan di awal pembelajaran sampai saat ini penerapan Halo Effect dengan metode cermin sangat efektif, dan siswa serta orang tua bisa dengan intens berkomunikasi menyampaikan saran untuk persiapan pembelajaran kedepan menjadi lebih efektif.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. https://pijarpsikologi.org/cara-mudah-membentuk-kesan-pertama-yang-baik/
  2. https://www.merdeka.com/gaya/8-tips-ciptakan-kesan-tak-terlupakan-saat-berkenalan.html

 

Melatih Anak Mandiri Melalui Hypnoparenting

Salah satu nilai dasar yang harus kita bentuk dalam diri anak adalah sifat mandiri. Kemandirian merupakan salah satu kebutuhan anak

Resensi Buku

Judul Buku : Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Kebersamaan Peserta Didik di Sekolah Inklusif Tahun : Desember, 2017 Penulis : Dr. Hermansyah,

Lapor Beri Kami Penilaian WhatsApp