Bagaimana Terapi Diskalkulia?


 

BAGAIMANA TERAPI DISKALKULIA?
Dr. Achyar, M.Pd

 

A. Apa Itu Diskalkulia?
Diskalkulia adalah kesulitan belajar dalam memahami matematika (termasuk tentang simbol-simbol matematika). Diskalkulia awalnya diidentifikasi, dalam studi kasus, dengan pasien yang menderita ketidakmampuan dalam aritmatika tertentu sebagai akibat kerusakan daerah tertentu dari otak. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa diskalkulia dapat juga terjadi dengan perkembangan, bisa terhubung secara genetis yang mempengaruhi ketidakmampuan seseorang untuk memahami, mengingat, atau memanipulasi fakta angka atau nomor (misalnya, tabel perkalian). 
Diskalkulia erat kaitannya dengan pemerosesan informasi numerical, seiring perkembangan ilmu neuroscience (neuropsikologi) proses kerja neuron dan kerja otak yang berhubungan erat dengan keberhasilan pemerosesan informasi numerikal ini telah diketahui. Sebelum berkembangnya neurosains, informasi tentang pemerosesan angka ini hanya seputar tentang pemerosesan simbol, aritmetika, mental Matematika, dan analogi tanpa didukung informasi kerja otak dan neuron. Para psikolog telah mengetahui fungsi pemerosesan informasi numerikal ini dan adanya hambatan pada anak dengan diskalkulia. Hanya saja, pada bagian otak atau kerja fungsi neuron apa yang terganggu belum diketahui hingga akhir tahun 2000 awal seiring berkembangnya ilmu neurosciene.
Pengetahuan tentang diskalkuia dan kesulitan belajar Matematika saat ini telah berkembang pesat seiring perkembangan neuroscience. Bahkan peneliti diskalkulia telah menciptakan perangkat lunak atau software bernama “The Number Race” untuk mendeteksi anak dengan gangguan diskalkulia (Wilson dkk, 2006). Software ini diperuntukkan bagi anak usia sekolah dasar dengan hambatan Matematika sebagai bahan remedial dan latihan Matematika, khususnya untuk anak dengan diskalkulia.
Peneliti neuroscience telah menemukan berbagai kemajuan dalam kesulitan belajar Matematika ini. Banyak literartur yang menceritakan perkembangan diskalkulia dengan mempertimbangkan hal berikut: 1) bahwa diskalkulia dapat dibedakan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, 2) mempertimbangkan hubungan antara “number sense” diskalkulia dan “verbal memory” diskalkulia, serta 3) mempertimbangkan hubungan “number sense” diskalkulia lobus parietal inferior (inferior parietal lobes), khususnya “angular gyrus” (Wilson & Dehaene, 2007). Berikut adalah gambar penampakan otak manusia. Bagian tertentu dari otak, khususnya horizontal intra-parietal sulcus (HIPS) berkaitan erat dengan pemerosesan informasi numerikal.

Anak berkesulitan belajar Matematika bukan tidak mampu belajar, tetapi mengalami kesulitan tertentu yang menjadikannya tidak siap belajar. Matematika sering menjadi pelajaran yang paling ditakuti di sekolah. Anak dengan gangguan diskalkulia disebabkan oleh ketidakmampuan mereka dalam membaca, imajinasi, mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman, terutama dalam memahami soal-soal cerita. Anak-anak diskalkulia tidak bisa mencerna sebuah fenomena yang masih abstrak. Biasanya sesuatu yang abstrak itu harus divisualisasikan atau dibuat konkret, baru mereka bisa mencerna. Selain itu anak berkesulitan belajar Matematika dikarenakan pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar siswa, metode pembelajaran yang cenderung menggunakan cara konvesional, ceramah dan tugas. Guru kurang mampu memotivasi anak didiknya. Ketidaktepatan dalam memberikan pendekatan atau strategi pembelajaran.

B. Bagaimana Gejala Diskalkulia?
Banyak anak-anak yang terdiagnosis diskalkulia memiliki kegagalan akademis yang pada akhirnya menjadi ketidakmampuan dalam belajar Matematika atau merasa tidak mampu mempelajarinya.
Adapun gejala-gejalanya antara lain:
1. Proses penglihatan atau visual lemah dan bermasalah dengan spasial (kemampuan memahami bangun ruang), termasuk kesulitan memasukkan angka-angka pada kolom yang tepat.
2. Kesulitan dalam mengurutkan, misalkan saat diminta menyebutkan urutan angka. Kebingungan menentukan sisi kiri dan kanan, serta disorientasi waktu (bingung antara masa lampau dan masa depan).
3. Bingung membedakan dua angka yang bentuknya hampir sama, misalkan angka 7 dan 9, atau angka 3 dan 8. Beberapa anak juga ada yang kesulitan menggunakan kalkulator.
4. Umumnya anak-anak diskalkulia memiliki kemampuan bahasa yang normal (baik verbal, membaca, menulis atau mengingat kalimat yang tertulis).
5. Kesulitan memahami konsep waktu dan arah. Hal ini berakibat sering kali mereka datang terlambat ke sekolah atau ke suatu acara.
6. Salah dalam mengingat atau menyebutkan kembali nama orang.
7. Memberikan jawaban yang berubah-ubah (inkonsisten) saat diberi pertanyaan penjumlahan, pengurangan, perkalian atau pembagian. Orang dengan diskalkulia tidak bisa merencanakan keuangannya dengan baik dan biasanya hanya berpikir tentang keuangan jangka pendek. Terkadang dia cemas ketika harus bertransaksi yang melibatkan uang (misalnya di kasir).
8. Kesulitan membaca angka-angka pada jam, atau dalam menentukan letak seperti lokasi sebuah negara, kota, jalan dan sebagainya.
9. Sulit memahami not-not dalam pelajaran musik atau kesulitan dalam memainkan alat musik. Koordinasi gerak tubuhnya juga buruk, misalkan saat diminta mengikuti gerakan-gerakan dalam aerobik dan menari. Dia juga kesulitan mengingat skor dalam pertandingan olahraga.

Deteksi diskalkulia bisa dilakukan sejak kecil, tapi juga disesuaikan dengan perkembangan usia. Anak usia 4- 5 tahun biasanya belum diwajibkan mengenal konsep jumlah, hanya konsep hitungan. Sementara anak usia 6 tahun ke atas umumnya sudah mulai dikenalkan dengan konsep jumlah yang menggunakan simbol seperti penambahan (+) dan pengurangan (-). Jika pada usia 6 tahun anak sulit mengenali konsep jumlah, maka kemungkinan nantinya dia akan mengalami kesulitan berhitung. Proses berhitung melibatkan pola pikir serta kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah. Faktor genetik mungkin berperan pada kasus diskalkulia, tapi faktor lingkungan dan simulasi juga bisa ikut menentukan. Alat peraga juga sangat bagus untuk digunakan, karena dalam Matematika menggunakan simbol-simbol yang bersifat abstrak. Jadi, supaya lebih konkret digunakan alat peraga sehingga anak lebih mudah mengenal konsep Matematika itu sendiri.

C. Bagaimana Terapi Diskalkulia? 
Penanganan diskalkulia dapat menggunakan terapi dan pendidikan remidial dengan tujuan untuk menyisihkan masalah yang dihadapi sehingga dapat membantu mencapai potensi anak secara maksimal. Terapi diskalkulia harus berdasarkan tingkat kesulitan atau defisit yang sesuai dengan usianya. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menangani diskalkulia, antara lain: Gunakan gambar, grafik, atau kata-kata untuk membantu pemahaman anak. Contohnya ibu membeli jeruk seharga lima ribu, gambarkan buah jeruk dan uang kertas senilai lima ribu. Hubungkan konsep Matematika dengan kehidupan sehari-hari, misalnya ketika menghitung piring sehabis makan atau mengelompokkan benda sesuai dengan warna lalu menjumlahkannya dapat mempermudah anak berhitung. Buat pelajaran Matematika menjadi sesuatu yang menarik. Anda bisa menggunakan media komputer atau kalkulator. Lakukan latihan secara kontinyu dan teratur. Cara mengatasi diskalkulia bisa dengan cara mengubah pembelajaran supaya memori bisa hidup kembali, misalnya, penggunaan warna-warna yang melambangkan angka.
Kelainan diskalkulia juga bisa berkomplikasi dengan kelainan lain, misalnya autis. Anak-anak dengan kesulitan belajar belum tentu bodoh, tapi bisa jadi dia mengalami kelainan komunikasi, sosialisasi, dan kreativitas seperti yang terjadi pada anak autis, Diskalkulia juga dapat dikaitkan dengan ketidakseimbangan orientasi otak kanan dan kiri yang imbasnya menimbulkan kesulitan orientasi Matematika. Aktivitas fisik diduga ada hubungannya dengan anak yang kesulitan geometri atau bangun ruang. Ada juga yang mengatakan bahwa diskalkulia terkait dengan kelainan pada motorik sehingga terapi bisa diberikan untuk memperbaiki saraf motoriknya.
Diagnosa diskalkulia harus dilakukan oleh spesialis yang berkompeten di bidangnya berdasarkan serangkaian tes dan observasi yang valid dan terpercaya. Bentuk terapi atau treatment yang akan diberikan pun harus berdasarkan evaluasi terhadap kemampuan dan tingkat hambatan anak secara detail dan menyeluruh.
Adapun terapi pada anak diskalkulia yang dapat dilakukan oleh guru di kelas sebagai berikut:
1. Guru dan orang tua harus menyadari taraf perkembangan anak.
2. Pendekatan yang sistematis dengan alokasi waktu yang tepat buat anak.
3. Perlu stategi belajar yang efektif dan memancing anak untuk memepertanyakan matematika dalam dirinya.
4. Pelatihan dan bimbingan buat anak-anak yang akan membantu pemecahan masalah dalam menghadapi kesulitan pelajaran Matematika.
5. Memverbalisasikan konsep matematika yang rumit dengan cermat. Dengan cara ini mempermudah anak untuk mengerti konsep Matematika.
6. Tulis angka-angka di atas kertas untuk mempermudah anak melihat dan menuliskan urutan angka-angka untuk membantu memahami konsep angka secara keseluruhan.
7. Jangan biarkan anak untuk berpikir secara abstrak dulu tentang Matematika.
8. Matematika dapat digunakan dalam konsep kegiatan sehari-hari. Seperti mengajak anak untuk menghitung kursi yang ada dimeja makan. Usahakan anak aktif untuk menghitung dalam kegiatan ini.
9. Berikan pujian ketika anak sudah menujukkan kemajuan, tetapi jangan terlalu menekan anak untuk pandai berhitung.
10. Gunakan gambar agar anak merasa nyaman dan tidak terlalu fokus dengan penghitungan. Gunakan gambar yang menyenangkan
11. Ingatan anak diasah terus menerus agar ingatannya tentang informasi-informasi yang ada tidak terbuang.

Selain penanganan yang dapat dilakukan guru, orang tua dapat juga melakukan terapi di rumahnya sehingga penanganan dapat dilakukan secara optimal. Penanganan yang dapat dilakukan orang tua adalah:
1. Cobalah memvisualisasikan konsep matematis yang sulit dimengerti, dengan menggunakan gambar ataupun cara lain untuk menjembatani langkah-langkah atau urutan dari proses keseluruhannya.
2. Bisa juga dengan menyuarakan konsep matematis yang sulit dimengerti dan minta anak mendengarkan secara cermat. Biasanya anak diskalkulia tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep secara verbal.
3. Tuangkan konsep matematis ataupun angka-angka secara tertulis di atas kertas agar anak mudah melihatnya dan tidak sekadar abstrak. Bila perlu, tuliskan urutan angka-angka itu untuk membantu anak memahami konsep setiap angka sesuai dengan urutannya.
4. Tuangkan konsep-konsep matematis dalam praktek serta aktivitas sederhana sehari-hari. Misalnya, berapa sepatu yang harus dipakainya jika bepergian, berapa potong pakaian seragam sekolahnya dalam seminggu, berapa jumlah kursi makan yang diperlukan jika disesuaikan dengan anggota keluarga yang ada, dan sebagainya.
5. Sering-seringlah mendorong anak melatih ingatan secara kreatif, entah dengan cara menyanyikan angka-angka, atau cara lain yang mempermudah menampilkan ingatannya tentang angka.
6. Pujilah setiap keberhasilan, kemajuan atau bahkan usaha yang dilakukan oleh anak.
7. Lakukan proses asosiasi antara konsep yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata sehari-hari, sehingga anak mudah memahaminya.

Dari uraian terapi disklulia di atas ternyata harus ada kerja sama terpadu antara guru dan orang tua untuk menentukan strategi belajar di kelas, memonitor perkembangan dan kesulitan anak, serta melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk memfasilitasi kemajuan anak. Misalnya, guru memberi saran tertentu pada orang tua dalam menentukan tugas di rumah, buku-buku bacaan, serta latihan yang disarankan.
Demikian tulisan tentang terapi diskalkulia mudah-mudahan bermanfaat untuk para guru dan orang tua.

 DAFTAR PUSTAKA

Mulyono Abdurrahman. (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Sidiarto Lily Djokosetio.(2007). Perkembangan Otak dan Kesulitan Belajar Pada Anak.Jakarta:UI Press