Guru, Pelukis Peradaban Bangsa

b2ap3 large webinar 1b2ap3 large webinar 2“Mengutip pernyataan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, guru merupakan pelukis peradaban bangsa. Keberhasilan anak-anak di 20-30 tahun ke depan adalah tergantung hari ini bagaimana kita memfasilitasi tumbuh kembang mereka. Pendidik merupakan perancang kesuksesan anak oleh karena itu perlu memberi perhatian kepada pendidik-pendidik di satuan pendidikan anak,” ujar Direktur GTK PAUD, Dr. Santi Ambarrukmi, M.Ed. Pernyataan ini disampaikan pada pembukaan webinar PPPPTK TK dan PLB pada Teacher Day Series dengan tema “Peran Masyarakat dalam Menggerakkan Pendidikan Anak Usia Dini”,  Kamis, (26/11) yang merupakan acara puncak dari perayaan hari guru nasional yang jatuh pada setiap 25 November.

“Tema hari guru tahun ini adalah ‘Bangkitkan Semangat Merdeka Belajar’. Motivasi dari tema ini supaya membuat kita semua bersemangat untuk membangkitkan merdeka belajar,” jelas Ibu Santi. Menurutnya dukungan dari peran masyarakat terkait Pendidikan, khususnya pendidikan usia dini sangat penting. Saat ini Kemendikbud memiliki berbagai program dengan tujuan untuk menggerakkan seluruh masyarakat (tidak hanya PAUD) yang seluruhnya untuk berkontribusi dalam menyukseskan pendidikan.

Kepala PPPPTK TK dan PLB, Drs. Abu Khaer, M.Pd., pada pengantar webinar menyampaikan harapannya agar ilmu pengetahuan yang dibekalkan guru mendapatkan keberkahan.  “Selamat hari guru nasional tahun 2020. Harapan kita sama, Pendidikan usia dini yang sangat strategis bagi tumbuh kembangnya anak, memperoleh perhatian besar oleh seluruh lapisan masyarakat,” harap beliau.  Dalam laporannya, Bapak Abu juga menyampaikan bahwa selama masa pandemi, PPPPTK TK dan PLB mengoptimalkan fungsi media sosial untuk menunjang tugas dan fungsi lembaga. ”Kami hadir enam hari dalam satu minggu untuk memberikan layanan dan mendiskusikan bidang pendidikan anak usia dini dan pendidikan luar biasa atau pendidikan khusus dengan sasaran pendidik, tenaga kependidikan, orang tua dan masyarakat pemerhati,” papar Bapak Abu.

Selain Direktur GTK PAUD Kemendikbud, webinar yang dimoderatori oleh Dr. Agus Mulyadi, M.Pd., ini juga mendatangkan beberapa narasumber ke ruang virtual webinar. Penyaji yang hadir pada momen spesial tersebut di antaranya, Ibu. Liestiaty F. Nurdin Abdullah (Bunda PAUD Sulawesi Selatan), Ibu Atalia Praratya Ridwan Kamil (Bunda PAUD Jawa Barat) dan Yessy Gusman (Ikatan Doktor PAUD Indonesia).

Seluruh penyaji sepakat bahwa pendidikan usia dini merupakan proses membangun pondasi dasar bagi kepribadian anak. Artinya membangun kemampuan dasar yang akan dibutuhkan di masa depan yang akan menjadi pondasi dan merancang kesuksesan hidup. Oleh karena itu penting untuk menjadikan anak-anak pembelajar sepanjang hayat melalui pendidikan yang menyenangkan.

Ibu Atalia sebagai bunda PAUD Jawa Barat memiliki program yang disebut kolaborasi penta-helix, yaitu kolaborasi antara pemerintah, komunitas, media, dunia bisnis, dan dunia akademis. “Bersama mari kita selamatkan anak bangsa melalui kolaborasi PAUD Holistik Integratif,” ajaknya.

Bunda PAUD Sulawesi Selatan, Ibu Liestiaty mengungkapkan bahwa pembangunan karakter di masa kecil merupakan hal sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Mengadopsi program Pendidikan di Jepang, beliau menyarankan agar program tayangan televisi bisa menguatkan karakter-karakter positif bangsa. “Saya lihat anak-anak sangat menikmati tontonan tv yang bermuatan karakter positif. Pada akhirnya hal tersebut meresap dan menjadi karakter dari anak-anak tersebut,”ujarnya.  Program lainnya yang diluncurkan Ibu Lies, antara lain perpustakaan lorong yang banyak mendapatkan respon positif dari masyarakat.

Pada akhir pemaparan, Yessy Gusman menyampaikan sarannya kepada guru di masa pandemi. “Di masa pandemi ini tidak bisa memindahkan kurikulum sekolah ke rumah. Nilai-nilai karakter yang ingin ditumbuhkan seperti kegotongroyongan, berahlak, bernalar kritis, mandiri, kreatif, bisa dimasukkan dalam kegiatan sehari-hari,” jelasnya. Menurut Yessy, taman bacaan juga memiliki peran penting karena membaca merupakan kecerdasan jamak yang harus diasah. (Eko/JMN)